From My Knowldege and Experiences

Wine Rasa Manis, Hatten Bali Respons Berubahnya Pasar Wisatawan

Tuesday, December 21, 2021
Dominasi wisatawan domestik di Bali saat ini disikapi produsen minuman fermentasi anggur atau wine dengan cita rasa selera wisatawan Nusantara ataupun Asia.

DENPASAR, NusaBali.com - Dominasi wisatawan domestik di Bali saat ini disikapi produsen minuman fermentasi anggur atau wine dengan cita rasa selera wisatawan Nusantara ataupun Asia.

Jelang tutup tahun 2021, perusahaan wine berbasis di Bali, Hatten Bali meluncurkan produk baru guna merespons dinamika pasar wisatawan. Hatten Wines, salah satu brandnya, meluncurkan produk baru Sweet Syrah yang disesuaikan dengan permintaan pasar lokal. 
 
Sweet Syrah, berasal dari anggur syrah yang ditanam di kebun anggur Bali utara (Buleleng) menawarkan sensasi berbeda red wine yang memiliki rasa manis lebih tinggi dibanding red wine yang beredar di pasaran. Dengan karakter full body, rasa sepat biji anggur sangat terasa pada produk ini. 
 
“Pandemi ini market berubah, sekarang lebih banyak domestik, red wine lebih banyak yang laku,” ujar Founder dan CEO Hatten Bali, Ida Bagus Rai Budarsa, Senin (20/12/2021).
 
Rai Budarsa mengungkapkan, selain Sweet Syrah, pihaknya juga meluncurkan produk red wine lainnya, Grenache, yang berada di bawah brand Two Islands Wines. Two Islands Wines sendiri merupakan brand yang juga berada di bawah naungan Hatten Bali, bersama Hatten Wines. 
 
Sama dengan Sweet Syrah, Grenache dibuat untuk mendekati pasar lokal yang lebih menyukai rasa wine yang lebih manis. Berbeda dengan Sweet Syrah, Grenache, dibuat dari anggur grenache impor yang tumbuh di Australia Selatan. Namun pembuatan winenya sendiri tetap dilakukan di Bali (Sanur). 
 
“Grenache ini mempunyai karakter yang light body, fruity,” ujar Rai Budarsa. 
 
Rai Budarsa mengatakan, selain memiliki kelebihan pada rasa manisnya, dua produk baru red wine juga sangat cocok dipasangkan (pairing) dengan menu makanan atau kudapan dari berbagai jenis makanan baik makanan western ataupun makanan lokal. Dikatakan menu lokal seperti sate, rendang, hingga lumpia sangat cocok dinikmati bersama dengan segelas red wine Sweet Syrah ataupun Grenache. 
 
“Wine tidak hanya diminum, tapi lebih banyak dipairingkan (dipasangkan) dengan makanan. Setelah digabung memberikan citarasa lebih,” kata Rai Budarsa. 
 
Head of Hatten Eduation Center, Ni Nyoman Kertawidyawati, pun menyampaikan dua produk baru Hatten Bali sangat cocok dipasangakan dengan berbagai elemen makanan. “Winenya kita universal, bisa dipairing dengan banyak elemen makanan yang berbeda,” ujar Kertawidyawati. 
 
Persepsi di pasaran, ujar dia, red wine paling cocok dipasangkan dengan red meat (daging merah) dan white wine cocok dengan white meat (daging putih). Menurut Kertawidyawati, hal tersebut tidak berlaku pada dua produk baru Hatten Bali.
 
“Saya bongkar semuanya, sate dagingnya putih, pakai red wine,” kata dia.
 
Hatten Bali sendiri saat ini memiliki 29 produk wine yang tersebar pada tiga brand di bawah Hatten Bali. Selain Hatten Wines dan Two Islands Wine, satu lagi brand lainnya adalah Dragonfly Wines.  
 
Selain menjual produk wine, Hatten Bali juga berusaha mengedukasi masyarakat mengenai seluk beluk wine. Terdapat kelas yang bisa diikuti oleh masyarakat yang ingin belajar soal pembuatan wine ataupun ingin mengetahui bagaimana memasangkan berbagai jenis wine dengan makanan pendampingnya.